Batanghari - Sungguh miris melihat nasib Redi Buyung Keladi (50) ini. Demi menghilangkan rasa gundah dan tersiksa serta depresi yang menyelimuti bathinnya, rela berkelana ke Bali, Medan, Pekan Baru, Bengkulu, dan Palembang. Kegundahan bathin pria cacat kedua kaki yang diamputasi karena kecelakaan tersebut, akibat usahanya bangkrut, cerai dengan istri serta tidak mempunyai anak sama sekali. Pria asal Muara Anak Kota Padang ini, berkeliling kota dengan mobil buatannya sendiri yang ditaksirnya dari sebuah motor bekas. Di daerah-daerah yang disinggahinya, selalu tidur di dalam mobil ciptaannya yang diberi nama Bujang Karimun.
Hal ini disampaikannya kepada Halojambinews, Kamis (07/11/2019) ketika sedang istirahat hendak ke Kota Jambi, di Terminal Muara Bulian.
" Benar. Saya ke kota-kota tersebut, hanya untuk menghilangkan depresi yang saya derita sekarang ini. Besok pagi, saya akan ke Kota Jambi singgah di tempat saudara, dan terus ke Jakarta" ungkap Redi yang ber-ktp Jelutung Kota Jambi ini.
Mantan suami dari Syamsidar asal Bayang Pesisir Selatan ini, menceritakan bahwa pada tahun 1982 dulu, pernah jadi sopir minibus penumpang PO. Danau Raya trayek Padang-Solok. Pekerjaan ini dilakoninya selama 6 tahun. Namun, padan1988, perusahaan oto ini bangkrut, dan dirinya menganggur, sampai bercerai dengan Syamsiar pada 1990.
" Setelah cerai dengan istri yang saya nikahi pada1983 dan tidak mendapat keturunan, saya pindah ke Jakarta. Saya bekerja serabutan selama 4 tahun. Baik jadi kenek, maupun supir serap. Baru pada 1995, saya mendapat pekerjaan sebagai supir dan truk bawa tanah di wilayah Kapuk. Namun naas, saya kecelakaan dan kedua kaki saya diamputasi" kata Redi lirih.
Setelah sembuh, akhirnya induk semangnya, memberikan modal untuk Redi membuka warung minuman serta makanan di daerah Tanah Abang. Dikarenakan banyak yang makan dan minum berhutang, akhirnya warung tersebut tutup. Redipun beralih ke dagang aksesoris, dengan sisa uang hasil jualan warung tersebut.
" Dari usaha makanan minuman, saya akhirnya dagang asesoris pakai gerobak sampai 2006. Namun, usaha ini juga gagal dan akhirnya tutup juga" ujarnya sambil tersenyum.
Pada 2006, berkat simpati dari kawan-kawannya, baik sesama pedagang maupun sopir dam truk dulu, terkumpulah dana sebanyak 7 juta untuk Redi. Karena dirinya dari kecil bercita-cita bisa mempunyai mobil sendiri, setelah mendapat masukan dari para sahabatnya, akhirnya Redi membuat mobil mini dari sebuah sepeda motor.
" Mobil mini ini, dari sepeda motor yang saya beli seken. Saya dibantu kawan-kawan merakit bodi mobilnya dari besi ringan dan aluminium. Mobil ini saya beri nama, Bujang Karimun, Bujang Karya Anak Minang Mandiri" paparnya lagi.
Dalam perjalanan dengan mobil mininya Bujang Karimun, Redi walaupun tak punya uang tak pernah meminta-minta, walaupun itu untuk makan, minum, rokok dan bensin selama perjalanan. Namun dimana tempat persinggahannya, selalu ada yang menaruh rasa hiba sambil memberi uang.
" Saya tak pernah mengemis. Namun Allah selalu membantu saya melalui tangan-tangan dermawan untuk sekedar menambah biaya perjalanan. Alhamdulillah." tuturnya mengakhiri. (uya)