JAMBI – Kabar Baik Untuk Petani Kelapa Sawit di Provinsi Jambi.Dimana Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kembali mengalami kenaikan pada periode 10–16 April 2026.

Kenaikan berdasarkan hasil penetapan harga oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi, TBS untuk usia tanam 10–20 tahun naik sebesar Rp143,39 per kilogram menjadi Rp4.046,05 per kilogram.

Kenaikan ini disambut positif oleh para petani, mengingat harga sawit menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di daerah tersebut. Tidak hanya pada kelompok usia produktif, kenaikan harga juga terjadi pada hampir seluruh kategori usia tanaman.

Berikut rincian harga TBS kelapa sawit di Provinsi Jambi:

Umur 3 tahun: Rp3.140,61/kg

Umur 4 tahun: Rp3.371,49/kg

Umur 5 tahun: Rp3.525,20/kg

Umur 6 tahun: Rp3.671,41/kg

Umur 7 tahun: Rp3.763,83/kg

Umur 8 tahun: Rp3.845,49/kg

Umur 9 tahun: Rp3.920,17/kg

Umur 10–20 tahun: Rp4.046,05/kg

Umur 21–24 tahun: Rp3.927,83/kg

Umur 25 tahun: Rp3.754,06/kg

Kenaikan harga ini menunjukkan tren positif yang cukup merata, terutama pada tanaman usia produktif yang menjadi andalan produksi. Penguatan harga TBS tidak terlepas dari naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) di tingkat global. Untuk periode yang sama, harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.784,13 per kilogram. Sementara harga minyak inti sawit (kernel) berada di angka Rp15.242,44 per kilogram dengan indeks K sebesar 95,02 persen.

Kondisi ini memberikan efek langsung terhadap harga TBS di tingkat petani. Kenaikan harga TBS menjadi angin segar bagi petani kelapa sawit di Jambi, khususnya setelah fluktuasi harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Dengan harga yang menembus di atas Rp4.000 per kilogram untuk usia produktif, pendapatan petani berpotensi meningkat, terutama bagi mereka yang memiliki kebun dengan produktivitas tinggi.

Sektor perkebunan kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi di Jambi. Oleh karena itu, pergerakan harga TBS memiliki dampak signifikan terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga ini diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi di tingkat lokal, mulai dari sektor perdagangan hingga jasa. Di tengah dinamika harga komoditas global, penguatan harga sawit menjadi sinyal positif bagi daerah penghasil seperti Jambi. Bagi petani, angka di atas kertas itu bukan sekadar statistik—melainkan harapan yang kembali tumbuh di setiap tandan yang dipanen.(red)