Batanghari - Nama Muara Tembesi maupun Sungai Batang Hari, adalah merupakan nama pemberian dari Raja Malaka pada tahun 1500 M, yang tinggal di suatu tempat yang berada di pinggiran sungai. Daerah tersebut bernama Dusun Semak, yang tak lain tak bukan adalah Kelurahan Pasar Tembesi sekarang.

Hal ini dijelaskan oleh pelaku sejarah Muara Tembesi, Bachtiar Oedin (100) kepada Halojambinews beberapa waktu lalu.

" Sekitar 1500 M, Pasar Tembesi ini namanya Dusun Semak. Ketika itu Raja Melaka sedang berdiri di pinggiran sungai dan melihat banyak sekali batang-batang pohon yang hanyut dibawa air dari sungai arah Sarolangun dan menumpuk di pinggiran sungai Dusun Semak. Karena menumpuk, akhirnya diperintahkan para Dubalang ya untuk menghanyutkan batang-batang pohon tersebut supaya hanyut ke arah hilir." kata Bachtiar.

Kemudian, lanjutnya, Raja Malaka tersebut memanggil beberapa dubalangnya serta membawa dua buah kendi.

" Raja menyuruh dubalangnya untuk mengambil air sungai dari Sarolangun dan sungai dari arah Tebo, untuk ditimbang. Ternyata setelah ditimbang, kendi yang berisi air aliran sungai dari Sarolangun, lebih berat dari air aliran sungai arah Tebo, yakni beratnya satu besi. Itulah awal mula nama Muara Tembesi" terang Bachtiar.

Ditambahkan Bachtiar, nama Sungai Batang Hari juga berawal dari Raja Melaka tersebut. Karena banyaknya sungai yang berisikan batang-batang pohon yang hanyut dari arah hulu, makanya raja memberi nama dengan Sungai Batang Hari.

" Nah, itulah awal mulanya nama Muara Tembesi dan Sungai Batang Hari. Semoga anak cucu dan cicit kita mengetahuinya." harap Bachtiar Oedin lagi. (Fri)