Batanghari - Kalau diukur dengan kondisi yang serba mahal pada zaman sekarang ini, jualan martabak mini dengan harga seribu rupiah perbuah, tidaklah sesuai. Namun, bagi Heru Syahruddin (51) sang penjual martabak mini tersebut, itulah keadaan yang harus diterimanya. Walau untung tipis, Heru tetap mensyukurinya.
Pria kelahiran Jawab Barat tersebut, setiap pagi pukul 08.00 WIB, sudah keluar dari rumahnya di Lorong Sawit Hutan Lindung Kelurahan Rengas Condong Muara Bulian, memikul dagangan martabaknya masuk gang keluar gang. Kadangkala ngetem di depan sekolah-sekolah di waktu siswa keluar main.
Setelah dari sekolah, Heru berkeliling menjajakan dagangan martabak mininya yang bercita rasa kacang dan meses. Walaupun itu dalam cuaca panas maupun hujan.
Ketika dihampiri Halojambinews di Lorong Marlian, Rabu (18/12/2019), suami dari Aminah ini, menceritakan bahwa mulai berjualan sejak 2006 nan silam.
" Saya mulai berjualan martabak mini ini sejak 2006 lalu. Kenapa martabak mini? Karena kalau jualan martabak biasa, saya terbentur dana. Dengan dana awal pas-pasan sebanyak 1 juta, akhirnya saya buat tempat dagangan yang dipikul, peralatan memasak serta bahan martabak" ungkap Heru.
Dari pagi hingga sore harinya, Heru yang belum dikarunia keturunan tersebut, mendapat keuntungan 70-100 ribu.
" Alhamdulillah, walau untungnya tipis, tapi cukup untuk keluarga." kata Heru.
Memang sedih ketika melihat Heru Syahruddin ini memikul gerobak martabak mininya, masuk gang keluar gang di Muara Bulian untuk meraih selembar dua lembar uang ribuan. Namun, keadaan tersebut dinikmatinya dalam menjalani kehidupan. ( Fri)